Victie

Browse
Genres
FAQ
Benefit
Top-Up VCoin

Tiga Monster di Meja Makan

by Bee Lesmana

CHAPTER 2 • 25 Agustus 2025

Setelah menyelesaikan beberapa laporan, Adrian melangkah menuju lift. Dia menekan tombol UG, dimana itu adalah Underground. Tempat parkir para karyawan. Adrian memasuki mobil mercedes hitam kesayangannya, lalu melajukan mobil itu meninggalkan gedung perkantoran.

Kurang lebih satu jam kemudian, Adrian tiba di salah satu pusat rehabilitasi. Rehabilitasi Adikara.  

Adrian melangkah masuk, dia langsung menuju ke kamar nomor 7. Kamar yang disewa khusus oleh Adrian.  

“Tok tok tok”

Pintu diketuk oleh Adrian.

“Masuk” terdengar suara perempuan dari dalam kamar.

Adrian membuka pintu dan melihat sosok perempuan yang sedang mengenakan tanktop warna hitam, dengan celana training. Otot tangannya kekar, dan sorot matanya seperti sorot mata pembunuh. Wanita itu memancarkan aura membunuh untuk menekan Adrian, tapi Adrian tidak terpengaruh. Adrian adalah sosok monster yang sebenarnya.

“Kenapa kamu menghubungi papa?”

Tanya adrian dengan nada datar.

Wanita itu menatap lekat ke arah mata Adrian. Mata mereka bertemu.

“Balas dendam. Kakak.”

Jawab wanita itu singkat, tidak ada rasa gentar dalam ucapannya.

Adrian menatap mata wanita itu, lalu menghembuskan nafasnya.

“Kau tidak boleh ikut campur. Ini urusan papa. Balas dendam kakakmu, biar papa yang membalasnya.”

Wanita itu menggeleng “Tidak Pa, aku akan membalas kematian kakak. Dengan tanganku sendiri.” wanita itu mengeratkan genggamannya di hadapan wajah papanya.

Adrian tahu, anaknya yang satu ini selalu keras kepala.

“Kau tahu sendiri, masa hukumanmu masih satu tahun lagi.”

“Papa, aku tahu papa bisa mengeluarkanku dari sini dengan mudah. Bahkan, sebenarnya aku pun tidak harus menetap di rumah rehabilitasi ini.”

Adrian kembali menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Jika saja saat itu papa tidak menahanku di sini, aku bisa menjaga kakak dari tangan - tangan mereka, tapi papa tidak mempercayaiku, dan akhirnya, kakak meninggal.”

Wanita itu justru menyalahkan Adrian. Adrian pun tahu, jika seandainya waktu itu dia percaya kepada anak ini, maka anak ini tidak akan masuk ke rumah rehabilitasi, dan mungkin saja, dengan adanya anak ini, anak yang satu lagi tidak akan pernah bunuh diri.

“Apa rencanamu sekarang?”

Wanita itu menyeringai, jika bukan Adrian yang melihat, mungkin sudah lari terkencing - kencing melihat senyumnya yang menakutkan itu.

“Aku akan menjadi kakak, berpura - pura baik, tapi lambat laun akan aku jatuhkan mereka satu persatu. Akan aku patahkan setiap ujung tulangnya, hingga mereka memohon untuk mati.”

Adrian memikirkan rencana dari anaknya ini.  

“Baiklah, tapi kamu tidak akan sendirian.”

“Tak masalah. Selama dia tidak mengganggu balas dendamku.”  

“Kalau begitu, Papa akan membebaskanmu dari sini, dan akan mencari orang yang akan mengawasimu.”

“Papa tidak perlu mencari orang yang mengawasiku, bebaskan saja ‘kakakku’. Dia hampir lebih kuat dariku, dari seratus pertarungan, aku hanya bisa menang tiga kali darinya.”

Adrian merasa terkejut. Ternyata masih ada monster yang lebih mengerikan daripada anaknya.

“Dimana ‘kakak’-mu itu?”

“Dia ada di kamar nomor tiga belas.”

“Siapa namanya?”

Namanya…”


Flashback Off


“Papa!”

Suara nona muda itu melengking dari kejauhan. Adrian sudah menunggu anak - anaknya di meja makan.

“Pagi.”

Sapa Adrian terhadap anaknya yang baru saja duduk di sebelahnya.

“Pagi juga Pa.”

Netra nona muda itu tidak melihat kakaknya.

“Kakak dimana pa?”

“Aku disini.”

Sosok wanita muda muncul dari lorong sebelah barat. Wanita berambut pendek berwarna hitam mengkilap, dengan sorot mata yang tajam, tak kalah tajam dari sang nona muda alias adik angkatnya. Mengenakan seragam sekolah yang sama dengan adik angkatnya.

“Apakah kalian berdua sudah siap?”

“Siap pa,” jawab mereka bersamaan.

“Sarapan dulu, biar ada tenaga.”

Mereka bertiga sarapan bersama, tanpa ada yang bersuara. Aura dingin menyebar ke seluruh ruangan. Para pelayan bergidik ketakutan, di meja makan itu, tiga monster makan bersama. Jika dilihat sepintas, mereka hanya makan seperti biasa, namun, mereka saling menekan dengan aura membunuh mereka. Adrian yang selalu waspada, nona muda yang selalu ingin memangsa, dan “kakak” dari nona muda itu yang selalu bertahan.

“Glek!”

Para pelayan hanya bisa menelan salivanya dengan kasar melihat para monster itu masih bisa menikmati sarapan mereka di bawah tekanan satu sama lain.

“Kakak, tambah lagi nasinya. Makan yang banyak.”

“Kamu juga dik, belakangan ini, otot - otot mu melemah, bahkan adu panco pun kamu kalah sepuluh kali.”

“Kalian berdua, bisa tidak makan dengan tenang.”

“Papa, lihat, kakak mengataiku…” kata nona muda yang merengek kepada papanya.

“Hohoho… ternyata nyalimu juga emngendur, sepertinya kakak harus melatih kamu sekali lagi.”

“Kakak, bukan nyaliku yang mengendur, tapi aku harus bisa menyesuaikan diri. Bagaimana jika mereka tahu kalau aku bukanlah kakak?”

“Hahaha, jadi sekarang kau berpura - pura menjadi anak yang polos?”

“Iya kak, jadi selama satu minggu, aku minta bantuan kakak ya.”

“Ogah.”

“Sudah sudah. Apa kalian sudah membaca dan mengingat lawan kalian?”

Mereka mengangguk mengiyakan.

“Sebenarnya papa ingin melenyapkan keluarga mereka, tapi kamu bersikeras untuk balas dendam dengan tanganmu sendiri. Jadi papa hanya memberi info, siapa saja lawan kamu, berikut dengan latar belakang keluarga mereka.”

“Papa tenang saja, aku akan membalaskan dendam kakak dengan kedua tanganku sendiri.”

“Iya pa, aku yakin, adikku ini dengan mudah membasmi hama seperti mereka.”

“Kalau begitu, aku percayakan balas dendam ini kepada kalian berdua.”

“Tidak tidak. Aku hanya akan mengawasi adik, hanya jika adik dalam keadaan tersudut saja, aku akan turun tangan.”

“Papa, percayakan mereka padaku.”

“Baiklah, kali ini papa akan percaya padamu.”

Mereka berdua menghabiskan sarapan mereka dengan obrolan yang lebih santai.

Pukul setengah tujuh, mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah. Adrian menggunakan mobil mercedes kesayangannya, nona muda menggunakan sepeda kayuh. Sedangkan kakak angkat dari nona muda itu menggunakan sepeda motor Sport.


***

Di gerbang sekolah Arthaya International School, sekolah elit khusus untuk orang kaya, gerbang sekolahnya saja tinggi dan besar. Dijaga ketat oleh empat orang satpam. Para siswa silih berganti memasuki gerbang sekolah Arthaya. Mereka ada yang diantar, ada yang menggunakan mobil pribadi, ada juga yang menggunakan motor mahal. 

Setelah memasuki gerbang, para siswa akan dimanjakan dengan air mancur dan taman yang indah dan luas. Eksterior dari bangunannya saja sudah terkesan elit dan megah.  

Di dalam ruang Kepala Sekolah…

“Jadi, kamu murid pindahan itu?”

Seorang siswi sedang menghadap kepala sekolah untuk melapor bahwa dia adalah murid baru.

“Benar pak. Perkenalkan, nama saya Mahesa Ratri.”

Ratri mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan kepala sekolah Arthaya. Kepala sekolah yang bernama Herman Sutrisno.

“Cantik juga”

Gumam Herman dalam hati. Dia sudah membayangkan hal - hal berbau mesum kepada Ratri.

Ratri yang sudah berkecimpung di dalam dunia gelap, langsung paham arti tatapan dari kepala sekolahnya ini.

“Selamat datang di Arthaya, semoga betah menimba ilmu di sini.”

Tangan Ratri diusap - usap oleh Herman, merasa risih, Ratri langsung menarik tangannya, melepaskan tangannya dari genggaman Herman.

“Maaf pak, saya harus ke kelas.”

Ratri berbalik badan. Sedangkan Herman sudah memikirkan seribu satu cara untuk dapat menikmati Ratri.

Tapi Herman tidak tahu, bahwa Ratri tersenyum lebar.  

“Ternyata kepala sekolah ini ada main juga dengan mereka.”

Gumam Ratri dalam hati.

Dia sudah diberitahu oleh papa angkatnya, bahwa Herman mungkin salah satu orang yang juga ikut berpartisipasi dalam kejadian bunuh diri adik angkatnya.

“Permainan ini akan semakin seru.”

Ratri mengeluarkan permen karet dari dalam sakunya, mengambil satu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Ratri melangkahkan kaki hingga menuju ke depan kelasnya. Kelas yang dulu dihuni oleh adik angkatnya. Kelas yang membuat adik angkatnya itu bunuh diri.  

Ratri memang tidak tahu dan belum pernah bertemu dengan adik angkatnya yang satu ini, tapi dari cerita adik angkat yang sekarang memainkan peran sebagai kakaknya, adik angkatnya ini pasti mengalami trauma buruk di kelas ini. Dia ingin tahu, apakah hama itu akan tetap melawan, meski tahu yang dihadapinya adalah serigala, atau para hama itu hanyalah kumpulan pengecut yang mengandalkan nama besar keluarga mereka.

“Let’s start the game”

Comments

Tidak ada komentar untuk saat ini...

PROGRESS
0% Read
CHAPTER 2